Deutsche Bank menilai pengurangan neraca The Fed berdampak negatif bagi dolar
Pengurangan neraca Federal Reserve sebagai bagian dari kebijakan moneter ketatnya dipandang sebagai faktor yang sangat negatif bagi mata uang AS. Penilaian ini disampaikan oleh George Saravelos, kepala riset valuta asing (FX) global di Deutsche Bank. Ahli tersebut berpendapat bahwa jika regulator AS, di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh, mengalihkan fokus dari kenaikan suku bunga ke penarikan likuiditas, dolar dapat menghadapi tekanan yang signifikan. Saat ini, neraca The Fed berada di angka sekitar $6,7 triliun, turun dari puncaknya sebesar $9 triliun pada tahun 2022.
Sebagai contoh nyata, Saravelos merujuk pada pengalaman Bank of Japan. Dalam beberapa tahun terakhir, regulator Jepang tersebut telah melakukan pengetatan kuantitatif dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, membiarkan obligasi pemerintah jatuh tempo tanpa melakukan investasi ulang. Namun, langkah-langkah ini tidak mencegah yen jatuh ke level terendah dalam 40 tahun, karena pengurangan neraca tanpa disertai kenaikan suku bunga jangka pendek tidak dapat memperkuat mata uang nasional. Selain itu, munculnya fenomena bearish steepening pada kurva imbal hasil memberikan dukungan yang jauh lebih kecil bagi dolar dibandingkan dengan flattening (pendataran kurva) yang terjadi saat suku bunga naik.
Masalah kedua terkait potensi pengetatan neraca, menurut analis tersebut, adalah konflik yang tak terelakkan dengan pemerintah AS, yang berkepentingan menjaga imbal hasil jangka panjang tetap rendah. Deutsche Bank menyatakan keraguan atas efektivitas pengurangan neraca sebagai alat untuk memerangi inflasi, serta memperingatkan bahwa penerapan strategi ini—alih-alih menaikkan suku bunga—akan ditafsirkan oleh pasar sebagai sinyal bearish yang jelas bagi indeks dolar AS, yang saat ini berada di kisaran 100,77.