Lihat juga
Pada akhirnya, segala sesuatu akan berakhir. Donald Trump yakin semuanya akan berakhir dengan baik, dengan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, saling serang menjelang tercapainya perjanjian membuat para investor gelisah. Pihak Amerika menyerang fasilitas radar musuh serta sarana komando dan pengendalian. Pihak lawan membalas dengan serangan udara ke pangkalan mereka dan serangan dari Kuwait. Pertempuran masih berlanjut, tetapi baik Washington maupun Teheran tidak mengakuinya sebagai pelanggaran gencatan senjata. EUR/USD sedang belajar untuk tidak percaya pada apa yang terlihat, melainkan pada kata-kata, dan bergerak naik-turun bolak-balik.
Kurs valuta asing di Forex bergantung pada kebijakan moneter bank sentral. Kebijakan ini, pada akhirnya, merespons inflasi, pasar tenaga kerja, dan guncangan geopolitik. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah telah mendorong ekspektasi inflasi dan harga konsumen. Hal ini dapat mendorong Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneter. Pasar kontrak berjangka menunjukkan probabilitas sekitar 50% bahwa hal tersebut akan terjadi paling cepat tahun 2026.
Pasar sering kali naik karena ekspektasi dan, dari waktu ke waktu, secara tidak langsung mengerjakan tugas bank sentral. Rally pada imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan bahwa kondisi keuangan saat ini berada pada level yang cukup ketat. Intinya, kenaikan suku bunga fed tidak diperlukan untuk menjinakkan inflasi.
Gambaran serupa terlihat di Eurozone, di mana Bank Sentral Eropamelaporkan penurunan ekspektasi inflasi. Mungkinkah lonjakan inflasi benar-benar hanya bersifat sementara, seperti yang diharapkan oleh White House dan pemerintah negara-negara dalam blok mata uang tersebut?
Para investor sudah lelah dengan konflik di Timur Tengah. Indeks saham terus naik seolah-olah tidak ada konflik. Namun, dolar AS masih bereaksi sensitif terhadap berita dari kawasan tersebut karena statusnya sebagai aset safe-haven. Dalam kondisi seperti ini, laporan pasar tenaga kerja AS untuk bulan Mei akan menjadi semacam napas segar bagi para trader.
The Fed memiliki mandat ganda. Bank sentral ini harus merespons baik tingginya harga maupun masalah ketenagakerjaan. Menjelang akhir 2025, faktor-faktor ini memaksa bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Namun sejak saat itu, situasi pasar tenaga kerja telah stabil dan The Fed mengalihkan fokusnya ke inflasi. Bank sentral dapat kembali ke prioritas sebelumnya jika data nonfarm payrolls memaksanya untuk berbuat demikian.
Bagi ECB, skenario stagflasi mungkin menjadi masalah. Harga konsumen di Zona Euro berisiko segera melonjak di atas 3%. Pada saat yang sama, revisi ke bawah pada proyeksi pertumbuhan PDB oleh Bank of France mengindikasikan perlambatan ekonomi di kawasan mata uang tersebut. Dalam kondisi seperti ini, pengambilan keputusan menjadi sangat sulit.
Secara teknikal, pada grafik harian, EUR/USD sedang kembali ke nilai wajarnya di 1,1645. Rebound dapat mendorong aksi beli, sementara breakout level tersebut dapat mendorong aksi jual euro terhadap dolar AS. Salah satu pilihan adalah tetap berada di luar pasar yang tidak memberikan sinyal yang jelas.